Pages


Ketika jatuh, maka terpuruk


Banyak pertanyaan
yang pada akhirnya aku mengerti jawabannya,

"Kenapa ada cinta,
kenapa pula ada benci,
kenapa harus ada kebencian dalam cinta,
bahkan sebaliknya."

Ketika jatuh, maka terpuruk,
tapi mungkin itu lebih baik dari sebuah kemunafikan :

"Tentang mecintai,
yang mereka bilang tidak cinta,
tentang ketidak-cintaan,
yang mereka katakan cinta."

itu semua jauh lebih baik,
jauh lebih baik...

Aku


Dari titik nol sampai akhir
aku masih belum tahu tentang perbedaan antara hitam dan putih,
tentang kesetiaan dan tentang kejujuran yang hakikipun aku belum mengerti...
tentang mereka semua yang hanya menilai segala sesuatu dari rupa
dan mejelaskan saat ini hanya dengan perbandingan masa lalu
yang menurut mereka semua itu adalah cerminan tentang apa yang ada dalam diri seseorang,

apa yang kudengar kini sulit untuk kuterjemahkan
apakah perasaanku hanya sebatas tubuhku saja
yang hanya bisa kurasakan dengan puas sendirian
tanpa bisa berteriak dengan lantang agar dia mengerti tentang penderitaan ini?????

huh...
hanya bisa mengeluh sendirian,
menikmati pikiran-pikiranku tentang dia,
menikmati senyuman kecil yang hanya bisa kurasakan beberapa saat,

tak terlalu muluk keinginanku,
kupikir demikian,
aku hanya ingin merasakan sesuatu yang tulus,
yang tanpa kujelaskan bisa kau mengerti sendiri apa maksudnya,

hanya satu hal yang dapat kudengunkan,
"semua yang berawal pasti memiliki akhir"

dan tentang awal dan akhir itu...
kau yang berhak memutuskan.

....

Akhir Sebuah Kisah


(Di ambil dari e-book "Lelaki Yang Berbicara Tentang Angin" By: M. Baiquni)

Lelaki itu terbangun, lagi-lagi di sepertiga malam menuju pagi.

Mata lelaki itu tiba-tiba saja terbuka, tak ada reaksi yang memaksanya.

Cuma tiba-tiba. Tidak juga karena terkejut oleh mimpi.

Memang cuma tiba-tiba, secara otomatis, seperti sudah terprogram.

Sesekali dikejap-kejap matanya yang masih terlalu asing dengan spektrum cahaya

yang berpendar dari lambu Philips 15 wattnya itu.

Cahaya yang terang untuk selalu membuat silau matanya,

padahal dulu dia telah terbiasa dengan lampu neon biasa.

Lelaki itu duduk. Badannya membungkuk.

Ujung tumit lengannya ditekan ke mata,

berusaha untuk menetralisir rasa buram karena

cahaya. Rasa pusing yang berat membatui kepala.

Lantas setelah buram mulai memudar,

lelaki itu kembali membaringkan badannya.

Dipandangnya langit-langit kamar berwarna putih.

Pikirannya melayang. Satu persatu benak mulai muncul.

Hantu-menghantui mengumpul galau,

lelaki itu meringis, matanya mulai berair, dia menangis.

Matanya kini terpejam. Lama.

Semakin menekan kelenjar air mata yang tadi mengurai

lembaran-lembaran tangisnya.

Tangisnya belum juga usai, sama seperti galau yang

menghantuinya. Semua belum usai.

Lintasanlintasan masa lalu, kegelapan, kepedihan,

kebusukan. Semua seperti uraian benangbenang

yang dicungkil dari kain-kain rapi terjahit.

Lelaki itu merasa begitu kerdil. Begitu hitam. Begitu kotor.

Sudah tak diingatnya lagi, berapa lama

dia berhenti berbicara dengan Tuhan.

Berhenti bercerita tentang lingkup hari-harinya.

Dia merasa Tuhan selalu diam, dia merasa tak ada guna bercerita,

toh Tuhan akan selalu tahu tentang dia.

Dia merasa, Tuhan begitu jauh, begitu agung, tak pantas untuk menerima

keadaan dirinya yang begitu kotor, ternoda, dan berdosa.

Lelaki itu masih menangis. Air mata itu tidak juga kering, malah semakin menderas

seperti mata air atau seperti gletser yang pecah melumuri tanah.

Sesenggukan mulai muncul, dari ketiadaan menjadi ada.

Hampir satu jam lebih lelaki itu larut dalam tangis.

Guling dalam pelukannya pun telah remuk. Bantal penopang kepalanya basah.

Dari sudut matanya tercetak garis-garis air yang tadi lewat, menuju pipi dia bermuara.

Akhirnya lelaki itu bangkit. Matanya telah merah, seperti warna saga.

Langkah-langkah berat akhirnya terayun. Lelaki itu ke dapur, mengambil gelas lalu menuangkan air dari dispenser. Bulir-bulir reaksi dingin melewati kerongkongan, diteguknya berlahan.

Dahaganya selesai. Lelaki itu kini menuju kamar mandi. Berwudhu.

Diangkat tangannya takbir. Ini adalah takbir pertamanya setelah lebih dua tahun dia alpa.

Diresapinya kenikmatan takbir sepertiga malamnya itu. Rasanya seperti ada sebuah kelegaan, sesuatu yang menggumpal rasanya menjadi terbebas, sebuah kerinduan.

Di sujud pertamanya lelaki itu menangis. Sesenggukan.

Air mata basah ruah bercecak di sajadah lusuhnya.

Lama lelaki itu sujud. Air mata itu terus tumpah.

Lelaki itu tak bangun-bangun lagi, kerinduan hebat menahannya.

Itu adalah sujud terakhirnya. Bahkan setelah nyawa berpisah dari raga, air mata itu terus tumpah.

Di atas langit, seluruh malaikat pun menangis.

Langit terbuka cerah di sepertiga malam itu.

Ketika itu, bumi hujan.

Pidato Presiden Soekarno


Kalau kita lapar itu biasa

Kalau kita malu itu juga biasa

Namun kalau kita lapar atau malu itu karena

Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke

Kalimantan hajar cecunguk

Malayan itu!

Pukul dan sikat jangan

sampai tanah dan udara

kita diinjak-injak oleh

Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan

berangkat ke medan juang

sebagai patriot Bangsa,

sebagai martir Bangsa dan

sebagai peluru Bangsa

yang tak mau diinjak-injak

harga dirinya.

Serukan serukan

keseluruh pelosok negeri

bahwa kita akan bersatu

untuk melawan kehinaan ini

kita akan membalas perlakuan ini

dan kita tunjukkan bahwa

kita masih memiliki Gigi yang kuat

dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo...ayoo...

kita... Ganjang...

Ganjang... Malaysia

Ganjang... Malaysia

Bulatkan tekad

Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!

Soekarno.